Telisikindonesia.com – Kotabaru, Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Cabang Kotabaru menggelar Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Hasil Riset bertajuk “Analisa Dinamika Penggunaan Alat Tangkap Ikan Tidak Ramah Lingkungan (Trawl dan Modifikasinya) serta Implikasinya terhadap Ketahanan Sosial-Ekonomi Nelayan Tradisional di Indonesia”. Kegiatan berlangsung pada Senin (01/12/2025) sekitar pukul 08.30 Wita, bertempat di kediaman Tajudin atau yang akrab disapa Taju, di Desa Rampa RT 06, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kotabaru. Rumah tersebut juga diketahui sering menjadi tempat penyelenggaraan acara adat Suku Samah Bajau Indonesia melalui lembaga adat POSBI.
FGD ini menjadi wadah penting untuk membahas dampak penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, seperti trawl dan berbagai modifikasinya, yang dinilai merugikan ekosistem laut serta mengancam keberlangsungan hidup nelayan tradisional.
Sekretaris KNTI DPD Kotabaru sekaligus Ketua POSBI Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa persoalan penggunaan alat tangkap destruktif tidak hanya merusak lingkungan laut, tetapi juga menimbulkan ketidakadilan bagi nelayan tradisional di wilayah Kotabaru. Dalam penyampaiannya, ia menegaskan, “Alat tangkap ini cenderung penekanannya untuk nelayan luar daerah yang sering masuk ke wilayah Zona 713, yang mana di zona tersebut sudah ada larangan keras dari perundang-undangan KKP. Mereka tidak boleh beraktivitas di Zona 713 di perairan dangkal,” ujarnya.
Larangan tersebut merujuk pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, yang secara tegas melarang penggunaan alat tangkap seperti trawl di wilayah perairan dangkal, termasuk di WPPNRI 713 yang meliputi Laut Jawa, Selat Makassar, dan sekitarnya.
Selain menyampaikan hasil riset, forum ini juga membahas pentingnya penguatan pengawasan di wilayah tangkap tradisional serta pemberdayaan nelayan lokal agar tetap mampu bersaing di tengah dominasi kapal besar dengan teknologi modern namun tidak ramah lingkungan.
Melalui kegiatan ini, KNTI Kotabaru berharap lahir kebijakan yang lebih berpihak kepada nelayan kecil, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, serta memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

