TANAH BUMBU, 10 Juni 2025 – Perayaan Hari Jadi Desa Gunung Besar di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, memicu kontroversi di kalangan warga. Momen sakral yang seharusnya merefleksikan budaya lokal justru diwarnai dengan hiburan musik DJ yang dinilai tidak sesuai dengan nilai dan kearifan budaya desa.
Acara perayaan yang sudah berlangsung dengan kegiatan seperti Jalan Sehat, Karnaval serta Tablig Akbar juga menyediakan stand untuk pelaku UMKM desa.
Namun, keberadaan stand UMKM ini justru menimbulkan keluhan karena dikenakan pajak yang dinilai terlalu mahal bagi pedagang kecil.
“Kami senang ada kesempatan promosi lewat stand di acara desa, tapi pajak yang dikenakan sangat memberatkan. Ini membuat kami sulit bertahan, terutama di tengah seruan efisiensi anggaran dari pemerintah,” kata seorang pedagang UMKM.
Selain itu, warga menilai hiburan malam dengan musik DJ lebih cocok untuk klub kota dan tidak mencerminkan budaya desa yang religius.
“Kami merasa terganggu. Hiburan ini tidak untuk semua warga karena yang ingin menonton harus membayar tiket,” kata Dewi Wulandari, warga yang mengkritik acara tersebut lewat media sosial.
Komentar serupa datang dari Putra Arjuna yang mempertanyakan kurangnya musyawarah dengan tokoh masyarakat dalam pengambilan keputusan acara.
“Hari jadi desa bukan event pribadi. Jangan sampai budaya kita tergeser oleh tren yang tidak sesuai,” ujarnya.
Warga pun mempertanyakan penggunaan anggaran desa yang terkesan jor-joran, padahal pemerintah pusat dan daerah tengah gencar melakukan efisiensi anggaran di berbagai sektor.
“Kenapa di Desa Gunung Besar justru penggunaan anggarannya berbanding terbalik dengan kebijakan efisiensi yang sedang digaungkan?” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
“Ini bukan soal suka atau tidak suka DJ, tapi soal rasa hormat terhadap budaya kita sendiri,” tambahnya.
Warga mendesak panitia penyelenggara untuk memberikan klarifikasi terbuka dan meminta agar ke depan perayaan desa fokus pada pemberdayaan warga serta penguatan nilai-nilai tradisional, bukan sekadar pesta dan hiburan sesaat.
Perayaan hari jadi desa diharapkan menjadi momentum refleksi dan memperkuat jati diri masyarakat. Namun, jika nilai-nilai lokal diabaikan, identitas desa bisa hilang.
Kini, giliran pemerintah desa dan panitia yang harus menentukan sikap: mendengarkan aspirasi warga atau melanjutkan pola lama.

