Tanah Bumbu – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Desa Gunung Besar, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, berlangsung luar biasa. Tak sekadar upacara dan seremonial, semangat kemerdekaan kali ini dibalut kuat dengan nuansa budaya tradisional yang menggugah salah satunya lewat penampilan memukau kesenian kuda lumping.
Pertunjukan kuda lumping yang digelar di lapangan desa itu menjadi magnet utama bagi masyarakat. Iringan musik gamelan yang menghentak, gerakan para penari yang dinamis, serta atraksi-atraksi yang sarat makna spiritual berhasil membius perhatian warga dari berbagai kalangan.
Paguyuban Terunggo Setyo Laras Karang Jawa, yang tampil sebagai pengisi utama, membawa nuansa khas Jawa Timur ke tengah masyarakat Kalimantan Selatan. Grup kesenian ini tidak hanya sekadar hadir sebagai hiburan, tetapi juga mengusung misi kebudayaan yang lebih dalam.

“Kami datang bukan hanya untuk tampil, tapi juga untuk menguatkan semangat kebersamaan. Budaya bisa jadi jembatan antar suku dan latar belakang,” ujar Lukito, salah satu anggota senior paguyuban yang telah beranggotakan 80 orang, mulai dari penari, pemain musik hingga sesepuh budaya.
Salah satu bagian paling sakral dari pertunjukan ini adalah Ritual Suguh Sesaji, sebuah tradisi Jawa yang dijalankan sebelum pementasan dimulai. Dengan doa dan persembahan, ritual ini menggambarkan penghormatan kepada leluhur serta harapan akan keselamatan selama pertunjukan. Ini menjadi bukti bahwa kesenian daerah bukan sekadar pertunjukan panggung, melainkan sarat nilai spiritual dan filosofi hidup.
Paguyuban yang didirikan oleh H. Suratno pada tahun 2021 ini telah menjadi garda terdepan dalam melestarikan budaya Jawa di Tanah Bumbu. Sejak berdiri, mereka aktif mengisi berbagai acara budaya dan selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat lokal.
“Kami ingin generasi muda tahu bahwa budaya kita bukan sesuatu yang kuno. Justru di sanalah kekuatan identitas kita berada. Budaya itu harus terus hidup,” kata Lukito dengan penuh semangat.

Acara yang digelar untuk memperingati HUT RI ke-80 ini pun menjadi ajang pertemuan nilai-nilai nasionalisme dengan kearifan lokal. Di tengah keberagaman etnis dan latar belakang di Tanah Bumbu, kegiatan ini memperkuat rasa memiliki sebagai satu bangsa yang besar.
Bambang Suryono, Ketua RT 05, menyebut bahwa kegiatan seperti ini perlu terus didukung dan dikembangkan. “Kesenian adalah cara kita mengingat asal-usul dan membangun persatuan. Saya harap tiap tahun ada kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Desa Gunung Besar, Suwito, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap seluruh pihak yang telah berperan serta. “Kebanggaan besar bagi kami bisa menjadi tuan rumah acara seperti ini. Semoga makin memperkuat semangat gotong royong dan nasionalisme di tengah masyarakat.”
Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang terasa kental, perayaan ini bukan hanya peringatan sejarah kemerdekaan, tetapi juga perayaan akan keberagaman yang hidup dan terus tumbuh di tengah masyarakat.

