BATULICIN, GK– Musisi sekaligus jurnalis, Puja Mandela, resmi merilis lagu berjudul “Batulicin”, sebuah karya bergenre folk yang mengabadikan kenangan tentang kota yang membesarkan dirinya melalui potongan-potongan kisah kehidupan sehari-hari.
Dengan lirik yang sederhana namun puitis, lagu tersebut mengajak pendengar menyusuri memori Batulicin sejak era 1990-an. Berbagai fragmen kehidupan dihadirkan, mulai dari riuh panggung musik anak muda, rental PlayStation dengan tarif Rp2.000 per jam, aroma laut yang terbawa angin, jalanan berlumpur saat hujan, debu yang beterbangan ketika musim kemarau, para perantau yang datang membawa harapan, hingga kisah dua insan yang kembali bertemu di sebuah dermaga.
“Batulicin mungkin bukan tempat paling nyaman untuk tinggal, tapi ia sudah menjadi kota kecil yang menghidupi, dan terus tumbuh hingga hari ini,” ujar Puja Mandela.
Pria kelahiran Banjarmasin, 13 April 1989, itu mengaku Batulicin menyimpan jejak perjalanan hidup yang paling berkesan baginya.
Salah satu lokasi yang paling membekas dalam ingatannya adalah kawasan Pasar Lama Batulicin, kampung halaman almarhum ibunya. Kawasan tersebut menjadi saksi berbagai kenangan masa kecil, kehidupan keluarga, persahabatan, hingga pengalaman-pengalaman sederhana yang kemudian menginspirasi lahirnya lagu tersebut.
Dalam proses produksinya, Puja memainkan sendiri gitar, harmonika, sekaligus mengisi vokal. Sementara proses rekaman, mixing, dan mastering dikerjakan oleh Prima Yuda Prawira. Menariknya, seluruh proses produksi lagu itu diselesaikan dalam waktu sekitar tiga jam.
Alih-alih menghadirkan romantisasi kampung halaman, “Batulicin” justru menggambarkan kota tersebut secara apa adanya. Batulicin tidak diposisikan sebagai tempat yang sempurna, melainkan sebagai ruang kehidupan yang membentuk karakter orang-orang yang tumbuh di dalamnya.
Kekuatan lagu ini juga terletak pada cara Puja membangun narasi melalui detail-detail kecil. Hampir setiap bait menghadirkan adegan yang berbeda sehingga lagu mengalir layaknya sebuah film pendek yang berpindah dari satu kenangan ke kenangan lainnya.
Salah satu bagian yang paling menyentuh terdapat pada lirik:
“Setengah lima
di samping jendela
ibu memasak
ayah di mana?”
Empat baris sederhana tersebut menghadirkan ruang tafsir yang luas dan mengundang pendengar menghubungkannya dengan pengalaman hidup masing-masing.
Tidak seperti lagu pada umumnya yang mengulang bait dan reff berkali-kali, “Batulicin” nyaris tidak memiliki pengulangan hingga mendekati akhir lagu. Repetisi baru muncul pada penutup melalui kalimat “Di Batulicin, kita bertemu”, yang menjadi penegasan emosional atas seluruh perjalanan cerita yang dibangun sejak awal.
Melalui detail-detail sederhana itu, “Batulicin” tidak hanya berkisah tentang sebuah kota di pesisir Kalimantan Selatan, tetapi juga tentang pengalaman yang dekat dengan banyak orang: tumbuh, merantau, pulang, dan mengenang tempat serta orang-orang yang pernah memberi makna dalam kehidupan.
Puja Mandela berharap lagu tersebut tidak hanya menjadi cerita tentang Batulicin, tetapi juga mampu membangkitkan kenangan para pendengar terhadap kampung halaman, masa muda, serta orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
Kini, lagu “Batulicin” telah tersedia di berbagai platform streaming digital seperti Spotify, YouTube Music, dan Apple Music. Video musik resminya juga dapat disaksikan melalui kanal YouTube Puja Mandela Official.

